Tuesday, February 27, 2007

Si Bagas Kasihan...


Udah lama juga gak posting di Blog ini... dianggurin sedikit gara2 sibuk sama hal2 lainnya yang kadangkala kurang penting juga. Ngeliat kakak gue Wawan a.k.a LB rajin posting untuk blog-nya, sepertinya asik juga untuk share pengalaman kita via Blog.

Nah kali ini gue mau cerita tentang anak gue Bagas, umurnya sekarang sudah 2 tahun 8 bulan lah kurang lebih, nah itu diatas fotonya lagi becanda masukin sandaran lehernya dia ke kepalanya trus ngomong gini deh... "Mama... Mama... Look...". Emang anakku yang satu ini (baru satu sih) suka iseng dan becanda, jarang sedih bahkan kalau dia sakitpun senyumnya dan becandaannya masih sering kita dengar dan lihat.
Yang mau gue ceritain sekarang adalah tentang dokter anak... yang bikin kita jadi sedih dan ngerasa bersalah. Jadi sebelumnya kita ke dokter anak di RSPI, nah dengan si dokter ini kita nggak sreg. Selama kurang lebih 6 bulanan kita kesana, dokter ini royal sekali untuk memberikan obat paten dan antibiotik kalau dia sakit walaupun sakitnya tidak terlalu parah. Dan si Bagas perkembangan badannya juga kurang baik dari bulan ke bulan berikutnya, plus levernya cenderung membengkak karena intensitas antibiotik dan obat2an paten yang seringkali mampir di badannya. Selain itu karena pasien dari dokter ini cukup banyak, walhasil waktu yang diberikan dokter ke pasien juga minim sekali; pertanyaan2 kita seakan dijawab agak terburu2 dan kurang memuaskan.
Perlu diketahui sebelumnya si Bagas ini terindikasi alergi yang cukup parah, sampai2 dulu (pada saat umurnya belum setahun) kulitnya gampang sekali teriritasi dan merah2... rambutnyapun banyak yang rontok... karena daerah kulit yang cukup parah efeknya adalah bagian kulit kepala. Pada saat ini kita ke dokter macam2, selain dokter anak si bagas juga sempat mampir ke dokter kulit dan dokter alergi....
Setelah kita merasa tidak pas dengan dokter tersebut, kita pindah dokter setelah mendengar bahwa dokter ini cukup berhasil menangani Nerrissa, anak dari kakak saya Lala. Nerrissa ini memiliki gejala alergi yang bisa saya katakan mirip dengan Bagas... Malah dia terkadang lebih parah... Jadilah kita pergi ke dokter ini. Dia praktek dirumahnya dan dekat dengan rumah, dari tampilannya dokter ini seperti ibu2 rumah tangga biasa, perbedaannya dia tidak gagap teknologi karena historikal pasien dia catet di komputer, cukup jarang saya liat dokter yang mengoperasikan komputernya sendiri untuk keperluan administratif ataupun lainnya. Mulailah proses pengobatan dengan dicek darah keseluruhan dan diberikan obat racikan yang tidak boleh terhenti, keadaan Bagas -pun selama beberapa bulan terlihat ada kemajuan.
Dokter ini cukup asik untuk memberikan waktunya ke pasien, pertanyaan demi pertanyaan dari kita dia jawab dengan cukup baik. Setiap bulan kita kesana karena obat yang diberikan ke Bagas (tiap hari) tidak boleh terputus dan resep diberikan untuk stok obat selama 1 bulan. Saat ini kita belum sadar bahwa dokter ini terus menerus memberikan obat yang bisa membuat efek yang sama dengan dokter sebelumnya. Dari obrolan kita dengan dokter, dia menceritakan bahwa kandungan obat yang diberikan adalah antara lain kandungan Besi yang sangat dibutuhkan untuk Bagas saat itu, tetapi kami kurang mengetahui detail kandungan apa saja yang dokter tersebut berikan untuk diminum anak saya setiap harinya...
Setelah hampir setahun atau malah lebih yaa.... kita merasakan kejanggalan, pertama yang mulai curiga istri saya, Vivi... karena melihat kondisi anak saya yang cukup baik, dia bertanya2 (walaupun saat itu masih bertanya-tanya dalam dirinya sendiri) kenapa Bagas harus diberikan obat terus setiap harinya. Tak lama setelah kecurigaan itu terbentuk, kakak saya Lala menelpon istri, langsung kecurigaan istriku terjawab, ternyata sepertinya dokter selama ini memberikan obat yang menurut kita tidak seharusnya. Dia memberikan obat TBC dengan nama INH dan Remactan kalau tidak salah spelling-nya. Setelah kita search di internet dan baca tentang kedua obat ini, kita hampir2 tidak percaya si dokter memberikan obat ini kepada pasien yang belum dibuktikan dan dites bahwa dia TBC (untuk menyatakan seorang pasien terserang TBC harus dites dulu air riaknya, dan ini belum dilakukan ke Bagas maupun Nerrissa). Obat ini juga mengurangi antibodi si anak sehingga untuk menumbuhkannya kembali dia harus dikasih booster yang sesuai, itupun sangat tidak alamiah.
Bukan hanya source dari internet yang kita coba telusuri, kakak saya juga bertanya ke dokter lainnya yang agak kaget juga melihat obat2an yang diberikan ke Nerrissa selama ini, karena sepertinya harusnya tidak diberikan sama sekali atau mungkin selama itu dengan intensitas yang cukup banyak. Untungnya kitapun punya saudara sepupu yang dokter, dan diapun juga menyayangkan hal ini, karena dapat berbahaya untuk si anak. Kitapun dapat membaca efek samping dari obat ini dibeberapa sumber dan yang paling gue ingat adalah dapat menyebabkan buta warna dan yang pasti pembentukan antibodi dalam tubuh Bagas dan Nerrissa terhambat.
Gue bingung banget dengan dokter yang menurut saya berbuat onar seperti ini, apakah dia sangat yakin dengan obat tersebut, apakah hanya akal2an agar kita datang terus ke dia; karena frekuensi yang terus menerus dan kita jadi ketergantungan dengan dokter tersebut dan kita sebagai orang tua menjadi terlena... Waduh entah apa yang menjadi modus operandinya tapi yang jelas share ini mengingatkan gue dan istri untuk lebih berhati-hati memilih dokter dan berusaha untuk tahu lebih jauh treatment plus obat apa yang diberikan dokter kepada si Bagas... Karena efeknya bisa fatal...
Sekarang Bagas baik2 dan sehat, kita lagi mencoba untuk mencek keadaan anak saya ke dokter lainnya... dan mencoba mendetox-nya dengan menggunakan temulawak, jahe, gula merah (lupa apa aja) natural dan efek sampingnya gak ada atau kecil sekali... untungnya si Bagas suka gak nolak dikasih obat tradisional ini...
Jadi, wahai orang tua WASPADALAH... WASPADALAH...

No comments: